Iklan

Iklan

Mewujudkan Cita-cita sebagai Poros Maritim Dunia

16/07/20, 16:26 WIB Last Updated 2020-07-16T09:26:33Z
Asdep Hilirisasi Sumber Daya Maritim Amalyos.
Jakarta - Indonesia memiliki kekayaan budaya maritim yang beraneka ragam. Hal tersebut merupakan hal yang wajar mengingat nusantara kita sebagai salah satu negara kepulauan terbesar dan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Namun sejalan dengan perkembangan zaman, batasan budaya mulai mulai terkikis, untuk itu internalisasi budaya maritim penting untuk dilakukan.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) sebagai institusi yang mengkoordinasikan urusan kemaritiman memiliki peran dalam internalisasi budaya maritim kepada pemuda.

“Mengutip dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024 khususnya butir 2a huruf b,bahwa pengembangan dari kekayaan budaya untuk memperkuat karakter bangsa dan kesejahteraan mencakup pengembangan budaya bahari, literasi maritim, Gerakan Cinta Laut, Gerakan Indonesia Bersih, dan Pengembangan Sumber Daya Maritim” jelas Asisten Deputi (Asdep) Hilirisasi Sumber Daya Maritim, Amalyos, pada Webinar Pelatihan Pemberdayaan Pemuda Bidang Kemaritiman (14/07/2020).

Dirinya menjelaskan bahwa pemerintah telah Menyusun Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI) pada tahun 2017. KKI tersebut digunakan sebagai dasar menyinergikan Langkah untuk mencapai Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada arahan terbukanya menyampaikan bahwa saat ini adalah waktunya mengembalikan Indonesia sebagai negara kemaritiman, membawa negara Kembali Berjaya di lautan.

Menurut Asdep Amalyos, arahan Presiden tersebut telah menumbuhkan semangat mengembalikan Indonesia sebagai negara kemaritiman. Dirinya kemudian meceritakan bahwa latar belakang Indonesia sebagai negara kemaritiman telah ada sejak jaman kerajaan majapahit, dan diperkuat dengan sudut pandang para bapak bangsa pada zaman pergerakan.

Pada paparannya, Asdep Amalyos mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik, potensi ekonomi maritim di Indonesia mencapai 1,33 triliun dolar Amerika per tahunnya. Pada data tersebut terlihat bahwa potensi ekonomi maritim di Indonesia paling besar berasal akuakultur serta pertambangan dan energi, yaitu sebesar 16%.

“Sampai tahun 2010, kontribusi ekonomi maritim terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 11,14%. Selanjutnya untuk tahun 2025, diharapkan dapat mencapai 27% dengan focus komponen terbesar adalah industry pengolahan, transportasi laut dan industry pendukungnya, serta budidaya laut” papar Asdep Amalyos.

Kontribusi tersebut merupakan upaya pemenuhan target Indonesia sebagai poros maritim dunia. Asdep Amalyos menambahkan bahwa diharapkan hasil dari target tersebut mampu mengangkat Indonesia dari kelompok lower middle income menuju negara upper middle income. Tentunya dengan pemenuhan komponen maritim yang besar.

“Dalam kurikulum kami mencoba untuk menggeser paradigma yang tadi mengacu apa yang dikatakan oleh presiden bahwa selama ini kita selalu melihat lebih banyak ke agrarisnya dimana kalau kami tanya ke anak sekolah bagaimana menggambarkan Indonesia selalu menggambarkan gunung sawah kemudian perumahan dan sungai juga kedepan kita akan coba untuk memberikan muatan kemaritiman, laut dan sebagainya” tutur Asdep Amalyos.

Menurut Amalyos, pemasukan kurikulum kemaritiman dalam bahan ajar merupakan pendekatan secara komprehensif dan terstruktur untuk internalisasi kemaritiman sejak dini.(KM)
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Mewujudkan Cita-cita sebagai Poros Maritim Dunia

Terkini

Topik Populer

Iklan