Iklan

Iklan

Harga Ayam Meroket, Pedagang Libur

24/07/18, 16:26 WIB Last Updated 2020-07-08T14:00:02Z
Meroketnya harga ayam menyebabkan pedagang memilih libur jualan. 
Sleman - Meroketnya harga daging ayam membuat para pedagang kelimpungan. Sebagian pedagang di sejumlah pasar tradisional di Sleman bahkan memilih tidak berjualan karena khawatir akan merugi.

"Mereka khawatir dagangan tidak laku karena harganya terlampau tinggi," kata Kepala Disperindag Sleman Tri Endah Yitnani kepada wartawan, Selasa (24/7).

Di tiap pasar tradisional skala besar, rata-rata terdapat 40 penjual daging ayam sedangkan pasar kelas menengah sekitar 20 pedagang. Pasca langkanya pasokan daging ayam dibarengi lonjakan harga yang drastis, sejak kemarin ada sekitar 35 persen pedagang yang memutuskan libur untuk sementara waktu.

Dari pantauan, harga daging ayam broiler mulai awal pekan ini telah menembus kisaran Rp 50.000 per kilogram. Harga itu disebut Endah merupakan rekor tertinggi sepanjang periode Januari-Juli 2018. "Daya beli masyarakat rata-rata pada range harga Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram," imbuhnya.

Menurut dia, lonjakan harga daging ayam disebabkan oleh penurunan produksi, dan mahalnya harga pakan. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan rencananya akan menggelar operasi pasar untuk menstabilkan kembali harga daging ayam.

Sementara di tingkat pemerintah daerah, upayanya melalui optimalisasi produksi ternak termasuk dengan antisipasi penyakit ternak oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3).

Sementar dari sisi Disperindag, menurut Endah, sebenarnya sudah memungkinkan untuk melakukan operasi pasar sebab kenaikan harga sudah lebih dari 20 persen. Namun pihaknya masih menunggu seandainya harga bisa terkoreksi dengan sendirinya.

"Kami lihat dulu, misal masyarakat beralih ke ikan untuk pemenuhan gizi protein hewani, apakah nantinya bisa menjadikan koreksi harga," terangnya.

Terpisah, Kepala DP3 Sleman Heru Saptono mengatakan, kondisi perubahan musim mengakibatkan perkembangan DOC atau anak ayam menjadi kurang maksimal.

Kendala lain yang dihadapi peternak adalah bibit induk ayam atau grand parent stock yang masih diimpor. Nilai tukar rupiah yang saat ini sedang anjlok menyebabkan harga bibit indukan melonjak.

Ditambah lagi, harga pakan yang mahal karena komponennya berasal dari luar negeri. Membengkaknya biaya produksi itu kemudian mendorong peningkatan harga daging ayam. "Sekarang peternak sudah mulai mengisi DOC. Kemungkinan dua minggu lagi bisa dipanen," katanya.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Harga Ayam Meroket, Pedagang Libur

Terkini

Topik Populer

Iklan